gravatar

Setetes Embun Cinta Niyala

Siapakah yang mampu hidup tanpa cinta?
          Perempuan manakah yang bisa membangun singgasana rumah tangganya tanpa cinta? Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan hati pilu.
          Tak ada! Jawabnya sendiri.
          Kecuali, manusia yang hidup tanpa hati dan nurani, seperti pelacur yang biasa hidup nista dan mendustakan cinta. Bahkan seekor merpati yang tiada dikaruniai akal pikiran menerima pasangan hidupnya atas dasar cinta. Tuhan menciptakan makhluk-Nya di semesta raya ini juga atas dasar kehendak dan cinta-Nya. Matahari, rembulan dan bintang bersinar karena cinta. Lautan menampung segala sisa dan kotoran yang mengalir dari daratan dengan penuh cinta. Sungai mengalir karena cinta. Bunga-bunga bermekaran karena cinta. Lebah meneteskan madu karena cinta. Dan hidup ini pada asalnya adalah karena aliran cinta. Sumbernya adalah samudera cinta Allah yang meliputi semesta. Dan segala benda dalam alam raya tunduk patuh menyembah Allah juga atas dasar cinta. Bukankah kesejatian penembahan dan kepatuhan itu terlahir dari kedahsyatan cinta? Lalu kenapa selalu saja ada yang mengusik hukum cinta?
          Ia masih tertundukdi atas sajadahnya. Kedua matanya terpejam. Dari dua sudut matanya keluar tetesan bening seperti embun.
          Oh, haruskah aku gadaikan hidupku ini? Pasrah tercampak tanpa mimpi mulia seperti pelacur hina yang kalah oleh nafsunya. Hampa, pahit dan getir tanpa cinta. Oh, bukankah aku lebih baik mati saja daripada jika aku harus menyerahkan mahkota kehormatan tanpa cinta. Menerima pasangan hidup dengan hati perih tersiksa. Merentas hidup baru hanya untuk mereguk nestapa selamanya. Melayani suami tanpa cinta. Terpaksa dan tersiksa. Melahirkan anak tanpa rasa bangga. Hidup selamanya di atas derita batin tiada tara.
          Oh, jika demikian adanya, bukankah aku lebih kalah daripada para pelacur itu. Mereka mereguk hidupnya atas kehendaknya, bahkan mereka bisa begitu menikmati hidup yang dijalaninya meskipun menistakan cinta. Tapi aku, aku akan hidup dalam bara belenggu keterpaksaan dan pemerkosaan sampai akhir hayat! Kenapa aku mesti mereguk kekalahan ini? Kekalahan untuk hidup ditinggal cinta, dipeluk kebencian dan kehinaan. Kenapaaa? Bulankah ini azab yang tiada tara perihnya? Apakah aku memang berhak menerima azab sepedih ini? Dosa apakah yang telah aku perbuat?
          Pertanyaan-pertanyaan itu mencerca dan menusuk ulu hatunya. Merajam-rajam batok kepalanya. Sakit, nyeri, perih dan pedih. Air matanya meleleh.
          Ia baca sekali lagi surat penting dari ayahnya yang dikirim dengan kilat khusus dari Sidempuan. Surat yang membuatnya kehilangan gairah untuk hidup. Dan membuat ia begitu membenci dirinya sendiri. Surat yang ia rasakan bagai vonis masuk neraka selama-lamanya. Padahal, saat itu ia sedang menunggu hari terindah dalam hidupnya, yaitu diwisuda sebagai dokter. Saat ia ingin mereguk manisnya madu kebahagiaan dari hasil belajarnya selama ini.  Saat ia membayangkan akan merenda hari-hari indah di depan dengan gelar yang ia peroleh. Namun isi surat dari ayahnya itu bagai petir yang menghanguskan semua harapannya. Memberangus mimpi-mimpinya, dan meluluhlantakkan istana cinta yang ia bangun dengan curahan jiwa untuk menyongsong masa depannya. Kalau saja surat itu bukan dari ayahnya,. Kalau saja surat itu tidak seperti itu isisnya. Kalu saja calon yang disebutkan itu bukan Roger orangnya. Oh, kalau saja ia bukan ia, tapi ia adalah debu yang tak mungkin terbebani oleh segala bentuk tidak suka. Dadanya sesak, namun ia tetap menekuri kata demi kata surat itu,

Bersambung............................

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Setetes Embun Cinta Niyala

gravatar

Pelangi Tanpa Warna

   Hujan baru saja reda, menyisakan butiran-butiran air di kaca jendela.Sejak dua jam yang lalu dua orang remaja menunggu hujan itu berhenti. Dan penantian merekapun tidak sia-sia, karena didepan mereka kini terhampar pelangi yang sangat mereka nantikan.

“Ujannya udah reda Ga!!!!! Kita keluar yuk.......” seru Arin riang sambil membuka jendela kamarnya. Kemudian ia menggandeng Rega dan bersama-sama pergi ke taman.

“Pelanginya udah keliatan jelas Rin?” tanya Rega pada Arin yang dengan santai bersender dibahunya. Mereka berdua duduk dibangku taman yang biasa mereka duduki.

“Jelas dong, malah hari ini lebih bagus dari biasanya. Bagus banget,”

“Coba aku bisa ngeliat ya Rin,” sesal Rega membuat Arin merasa tidak enak karena telah membuat sahabatnya berkecil hati.

“Sudahlah..... kan ada aku yang ngegantiin mata kamu”

Kasih Ibu adalah nama panti asuhan tempat Rega dan Arin tinggal. Sejak masih sangat kecil, mereka sudah tinggal disana. Rega memang buta sejak ia baru lahir. Tetapi ia beruntung karena ada Arin yang selalu setia mendampinginya baik sebagai sahabat ataupun menjadi mata baginya. Bagi Rega, hanya bersama Arinlah satu-satunya saat dimana ia bisa merasa dunianya begitu terang juga berwarna. Baginya, Arin adalah pelita dalam hidupnya yang gelap.

     Sepulang sekolah, seperti biasanya, Arin langsung mencari Rega yang pasti sedang duduk ditaman.

“Rasanya baru kemarin kita duduk disini, main dokter-dokteran!” di halaman yang tampak dari tempat Rega duduk terlihat beberapa orang anank-anak asuh lainnya sedang bermain. Dan Arin jadi teringat kala ia masih seusia mereka. Sejak kecil ia memang bercita-cita ingin menjadi dokter. Harapannya hanya satu, ia ingin menyembuhkan Rega.

“Itukan udah beberapa tahun yang lalu. Kamu gak bantu Ibu di dapur?” Rega meraba-raba tas yang diletakkan Arin disampingnya.

“Males. Kan aku mau nemenin kamu.”

“Kamu ini. Bukannya setiap hari kaamu juga udah nemenin aku? Gak bosen?”

“Gak akan. Aku gak akan bosen nemenin kamu. Aku akan selalu sama-sama kamu.” Ucap gadis itu manja sambil merangkul Rega. Pemuda itu hanya diam sambil tersenyum.

“Kamu gak akan ninggalin aku kan?” tanya Rega serius.

“Iya dong. Aku janji gak akan ninggalin kamu.” Dengan gemas Arin lalu memeluk lengan Rega seperti yang biasa dilakukannya.

     Namun sayang, janji itu hanya tinggal janji. Keesokan harinya, Arin dipanggil oleh pengurus panti, Bu Putri untuk menghadap keruangannya.

“Apa yng ibu mau bicarain?” tanya Arin penasaran. Biasanya kalau sudah dipanggil keruangan seperti ini pasti ada hal penting yang harus dibicarakan.

“Besok ada sepasang suami istri yang ingin menemui kamu.” tanpa basa basi Bu Putri langsung mengarah kepokok pembicaraan.

“Maksud ibu, mereka mau mengadopsi saya? Apa saya gak ketuaan, bu? Kan masih ada Ria, Windy, Tommy, yang jelas lebih muda dari saya.”

“Mereka itu orang tua kandungmu, Rin. Apa kamu tidak mau menemui mereka?” Arin langsung terdiam ketika Bu Putri mengatakan hal itu. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Kemarin mereka datang kemari, dan memperlihatkan semua bukti-bukti yang mengatakan kalau kamu memang benar-benar anak kandung mereka.”

“Gak mungkin...!!!” pekik Arin tertahan. Ia masih tidak percaya dengan hal ini. Ia merasa benar-banar tidak siap untuk mendengar hal ini. Terlebih, untuk berpisah dari Rega.

“Mereka memperlihatkan akta kelahiran dan foto kamu waktu kamu berusia 11 bulan.” Bu Putri memperlihatkan akta kelahiran dan sebuah foto kepada Arin. Dan memang dialah bayi yang ada difoto itu.

“Mereka itu orang tua kandungmu. Mereka orang tua yang selama 16 tahun ini tidak pernah putus asa untuk mencari kamu. Kamu sekarang sudah dewasa, dan ibu yakin kamu bisa mengerti.” Tanpa tahu harus berkata apa-apa, Arin beranjak meninggalkan ruangan itu dan air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya.

     Esoknya, seperti yang dikatakan Bu Putri kemarin, sepasang suami istri tiba di panti asuhan Kasih Ibu. Arin tahu mereka sudahdatang, tapi ia masih belum siap bila harus bertemu mereka sekarang.

“Kamu lagi punya masalah, ya Rin?” seperti biasa, ia lebih memilih menemani Rega duduk di taman. Sejak tadi ia terus diam dan rupanya Rega tahu ada masalah yang sedang dia sembunyikan.

“Kamu tau, Ga?” tanya Arin lemas. Karena memikirkan masalah itu, ia tidak tidur semalaman.

“Aku udah kenal kamu berapa lama sih Rin? Jelas aku tau lah kalau kamu itu sedang lagi ada masalah. Cerita dong,”

“Gak ada masalah apa-apa kok. Aku lagi capek aja,”

“Yang benar?”

“Iya. Hmmm.....” Arin hampir mengatakannya tapi ia terlanjur malihat Bu Putri datang menghampiri mereka.

“Rega, ibu pinjam Arinnya ya. Ada yang mau ibu bicarain sama dia,” Rega hanya mengangguk. Lantas Bu Putri segera menggandeng tangan Arin dan mengajaknya pergi meninggalkan Rega.

    Arin merasa asing dengan dua orang yang berdiri di depannya. Begitu melihatnya masuk bersama Bu Putri beberapa saat yang lalu, mereka langsung menghambur memeluknya.

“Karina, anakku! Ya Tuhan, kamu sudah sebesar ini nak,!” ucap haru wanita yang masih memeluknya dengan erat.

“Kamu masih memakai kalung ini,” wanita itu melepaskan pelukannya dari Arin dan menatap kalung yang dikenakan oleh gadis itu. Ia memegang liontin kalung itu yang terbuat dari batu giok yang berbentuk tetesan air yang didalamnya bertuliskan nama Karina. ”Kalung ini adalah kalung yang mama berikan kekamu waktu kamu baru lahir, sayang.”

“Kami kemari untuk menjemput kamu. Kamu akan tinggal bersama kami.” Lelaki yang terlihat bijaksana, yang sejak tadi hanya diam turut bicara.

“Saya tidak mengenal kalian dan saya tidak akan mau tinggal dengan orang yang tidak saya kenal.” ucap Arin dingin, nampak sekali kalau ia tidak suka dengan kedatangan mereka.

“Kami akan jelaskan semuanya sama kamu.”

 Dan akhirnya Arin mengerti kalau selama ini ia telah salah menilai kedua orang tuanya. Ia salah kalau mengira kedua orang tuanya tidak menyayanginya dan malah membuangnya ke panti asuhan. Yang sebenarnya terjadi adalah kakeknya tidak menyetujui pernikahan orang tua Arin. Dan ketika ia mengetahui bahwa telah lahir seorang anak dari rahim wanita yang tidak ia inginkan, maka iapun membuang bayi yang tidak berdosa itu. Dan tanpa putus asa mereka berusaha mencari anak mereka dan akhirnya usaha itu tidak sia-sia.

     Hari ini juga Arin akan ikut pulang bersama orang tuanya. Sekarang ia sedang membereskan semua barang-barangnya.

“Kamu ternyata disini, Rin. Aku tungguin dari tadi di taman, kamu nggak muncul-muncul.” nampak Rega sudah berdiri diambang pintu membuat Arin terkejut melihatnya.

“Maafin aku, Ga....” Rega seakan meruntuhkan tekad Arin untuk pergi dari panti.

“Kamu mau kemana?” ia ikut duduk ditempat tidur Arin dan meraba-raba pakaian yang siap dimasukkan gadis itu kedalam koper.

“Aku...aku...”Arin tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibirnya terasa kelu. Ia tidak tega harus meninggalkan Rega yang begitu tulus mengharapkannya.

“Kamu mau ninggalin aku kan Rin?”

“Maafin aku Ga. Ada sepasang suami istri yang menungguku di luar. Mereka orang tua kandungku.” ucap Arin akhirnya.

“Kamu kan udah janji nggak akan ninggalin aku disini. Kamu bohong, Rin.” Arin tidak dapat membalas ucapan Rega itu. Ia hanya menangis sambil menatapnya.

“aku gak akan lupain kamu kok.Kita akn tetap bersama selamanya. Walau itu cuma....ini,”Arin menempelkan telapak tangannya didada Rega dan lantas memeluknya dengan erat seakan hanya ini satu-satunya kesempatan untuk memeluknya.

     Rega mengiringi kepergian Arin. Ia mengantar gadis itu sampai ke mobil.

“Aku janji bakalan sering kesini.” Arin yang sudah di dalam mobil memegang jemari Rega yang masih berdiri di sisi jendela mobil.

“Aku berharap saat hujan reda, kamu ada disampingku supaya kita bisa lihat pelangi sama-sama lagi.” Sahut Rega, dan setelah itu Arin benar-banar pergi meninggalkannya.

Perlahan, Rega berjalan menyusuri jalan setapak yang sering lalui bersama Arin, dengan tongkatnya. Setiap satu langkah, iapun seakan mengulan kembali satu kenangannya bersama Arin. Akhirnya ia sampai di bangku tempat ia biasa duduk. Ia meraba-raba bangku itu dan menemukan setangkai bunga di sana.

“Aku nggak tahu apakah bunga ini benar-benar bunga mawar outih atau nggak. Tapi yang aku tahu bahasa bunga mawar putih adalah.....cinta suci. Sesuci cintaku untuk kamu,” tidak ada yang Rega sembunyikan dari Arin, kecuali hal ini. Entah sejak kapan ia mulai merasa bahwa ia jatuh cinta pada Arin. Gadis itu adalah segala-galanya dalam hidunya, yang bagi Rega sendiri, tidak berharga ini.

     Hanya satu bulan waktu yang dibutuhkan Arin untuk benar-benar menyesuaikan diri dengan kehidupan yang sekarang. Namun, bukan berarti ia merubah semuanya. Walupun kini hidupnya serba berkecukupan, hal itu tidak merubahnya menjadi sombong. Ia masih tetap rajin mengunjungi Rega juga saudara-saudaranya di panti asuhan. Walau jarak dari rumahnya ke panti cukup jauh, itu tidak menyurutkan niatnya untuk menemui mereka.

“Kamu nggak sekolah hari ini? Kok jam segini udah kemari?” tanya Rega ketika ia dan Arin dudu-duduk di tempat favorit mereka, taman.

“Gurunya lagi ada rapat, jadi kita-kita pulangnya cepet deh!” sepulang dari sekolah Arin langsung meminta sopirnya untuk diantar ke panti.

“Kamu bahagia tinggal sama mereka?” pertanyaan itu terasa sedikit aneh ditelinga Arin apalagi melihat raut wajah Rega yang terlihat sedih.

“Bahagia dong! Kan sama orang tua sendiri. Tapi, gak kalah bahagianya sama tinggal disini.”

“Syukurlah kalau kamu bahagia tinggal disana.”

“Aku akuin sih....aku juga merasa kesepian. Walaupun semuanya serba tersedia disana, tetap aja aku sering rindu sama panti. Kangen sama suara ributnya anak-anak atau rebutan makanan di meja makan. Dan yang paling aku kangenin ya, kamu.” Rega mengusap punggung Arin yang kini sudah memeluk pinggangnya seperti yang gadis itu sering lakukan. “Kemarin aku liat pelangi diteras rumah,”

“Kemarin, waktu hujan reda,aku duduk disini melihat pelangi. Sama sepertiyang kamu lihat. Wlau sebenarnya aku nggak yakin pelangi itu benar-benar ada atau ngaak. Yang jelas, aku berharap kamu ada disampingku, berteriak kalau pelanginya sudah muncul.” sahut Rega pelan tanpa tahu bagaimana ekspresi wajah Arin katika mendengarnya mengatakan hal itu. Tanpa ia sadari perkataannya itu selalu terpikirkan oleh Arin bahkan sampai gadis itu pulang kembali kerumahnya.

     Mawar putih yang dulu berniat Rega berikan pada Arin kini masih ia simpan walau bunga itu sudah layu dan mengering. Rega berniat menyatakan perasaannya pada Arin. Ia tidak berharap gadis itu akanmenerima cintanya, baginya yeng terpenting adalah Arin mengetahui perasaannya.Namun sayang,tekad yang tadinya telah bulat, seakan mulai memudar karena sudah beberapa  bulan ini gadis itu tak pernah mengunjinginya lagi di panti. Sudah beberapa kali ia mencoba menelepon kerumahnya, tapi tidak pernah sekalipun ia bisa berbicara dengannya. Mereka selalu beralasan, bahwa Arin sedang sibuk mempersiapkan ujian akhir yang tinggal beberapa minggu lagi. Rega mulai putus asa, ia hanya berharap setelah selesai ujian, Arin akan kembali mengunjunginya.

     Setelah benar-benar bosan terus menunggu Arin, akhirnya Rega memutuskan untuk mengunjungi gadis itu dirumahnya. Dengan berbekal alamat yang dicatatkan oleh Bu Putri dan dengan ditemani Adi, adiknya di panti, iapun pergi kesana.

“Mau cari siapa?” tanya satpam begitu mereka baru tiba di dapan gerbang.

“Kita-kita mau nyari Arin,” sahut Adi.

“Oh maksudnya non Karina? tunggu disini sebentar, ya. Saya lihat dulu,” setelah mengatakannya, satpam itu lalu bergegas masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian,

“Maaf, Non Karinanya lagi pergi tuh,”

“Pergi kemana? Apa sudah lama?” tanya Rega tak sabar.

“Wah, saya kurang tahu, soalnya saya juga baru datang.”

“Kami nunggu disini saja, Pak.”

“Mendingan kalian kemari lagi nanti. Non Karina kalau pergi suka lama.”

“Kami nunggu aja, sudah jauh-jauh kemari.” Tanpa meminta persetujuan satpam itu, Rega dan Adi duduk menunggu di depan pagar.

Sementara itu di dalam rumah,

“Sudah satu jam kamu disini, apa kamu hanya mau melihat dari sini saja? Temui dia,” seorang wanita muda berseragam serba putih menghampiri Arin yang sejak tadi duduk memandangi Rega dibawah sana melalui jendela kamarnya.

“Aku takut,” jawabnya pelan.

“Kenapa harus takut? Kamu seharusnya tidak menghindar seperti ini, Toh, dia tidak akan melihat keadaan kamu. Dia tidak akan menyadarinya asalkan kamu bisa bersikap seperti biasa,”

“Dia itu udah kenal aku dari kecil, dia selalu tahu jika ada perubahan dalam diri aku. Dia pasti sedih kalau tahu keadaanku sekarang,”

“Dia malah akan lebih sedih kalau tahu hal ini dari orang lain. Temui dia,dan ceritakan semuanya dengan jujur. Dia pasti akan mengerti dengan keadaan kamu sekarang.” seakan mengerti, wanita itu lalu meninggalkan Arin sendirian agar gadis itu bisa memikirkan apa yang baru saja ia katakan.

      Rega bingung sendiri ketika satpam yang tadi mengatakan bahwa Arin tidak ada dirumah, malah menuntunnya ke taman.

“Kamu ada disini kan Rin?” Rega yakin Arin pasti ada didekatnya.

“Aku disini,” begitu mendengar suara yang sangat ia rindukan, Rega langsung berusaha untuk menemukan sosoknya.

“Kemana saja kamu selama ini?” akhirnya ia menemukan Arin. Gadis itu duduk diatas hamparan rumput yang menghijau.

“Maafin aku, ya karena udah buat kamu bingung. Aku bakal jujur deh sama kamu,” dan akhirnya Arin menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa bulan belakangan ini.

Awalnya ia mengira hanya sakit kepala biasa. Dan sakit itu sebenarnya sudah ada sejak ia masih tinggal dipanti. Tapi beberapa bulan yang lalu sakit itu semakin menjadi dan kedua orang tuanya membawa Arin ke rumah sakit. Dokter mengatakan ada tumor yang bersarang diotaknya. Dan penyakit itu sudah terlanjur parah. Kalau dioperasi, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Dan Arin lebih memilih menunggu waktunya yang hanya sedikit. Semakin hari semangat hidupnnya semakin memudar seiring dengan tubuhnya yang semakin melemah.

“Sebenarnya arti aku bagi  kamu itu apa? Terus terang aku kecewa sama kamu,” ucap Rega sedih begitu mendengar semua penjelasan Arin. Baru kali iniia terlihat semarah ini. Tampak sekali kekecewaan dimatanya yang berwarna kelam.

“Bukan maksud aku begitu, aku cuma nggak mau kamu sedih.” Arin langsung memeluk Rega. Ia tidak mau dibenci olehnya.

“Jelas aku sedih kalau dengar kamu sakit, tapi aku lebih sedih kalau aku harus tiba-tiba kehilangan kamu tanpa  tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.” Rega tidak pernah bisa benar-benar marah pada Arin. Ia terlalu menyayangi gadis itu.

“Sekali lagi, maafin aku, ya. Kamu mau kan?”

“Kamu nggak perlu minta maaf. Yang penting sekarang kamu ada disini,”

“Kamu bakal terus ada disampingku kan, sampai aku......” tanpa perlu Arin lanjutkan pun Rega tahu apa yang akan Arin ucapkan. Ia hanya mengangguk pasrah.

       Sejak hari itu, Rega selau rajin mengunjungi Arin dirumahnya. Berkat kehadiran Rega, keadaan Arinpun menjadi lebih baik dan semangat hidupnya mulai kembali lagi.

“Pa, mama udah memikirkan permintaan Karina tadi malam.” orang tua Arin sedang memperhatikan putri mereka yang sedang bercanda dengan Rega di halaman belakang.

“Papa rasa kita harus mengabulkan keinginannya itu, ma.”

“Rega anak yang baik. Ia sangat menyayangi Karina. Dia rela berjam-jam hanya untuk menemani Karina. Dan ia juga merawat Karina dengan baik meski gerakannya terbatas oleh kekurangan fisiknya. Tapi....rasanya mama tidak rela kalau harus melakukan hal itu. Kalau permintaan yang satunya sih mama sangat senang mengabulkannya.”

“Kita bersalah pada Karina. Baru sebentar ia merasakan kebahagiaan, kini ia sudah harus menderita lagi. Papa hanya ingin mengabulkan permintaannya. Kalua dia saja bisamemberikannya dengan ikhlas, kenapa kita tidak?:

       Rega terbangun oleh suara serak Arin yang memanggilnya. Rupanya ia haus dan ingin Rega mengambilkan air untuknya. Sudah semunggu ini kondisi Arin memburuk dan ia harus kembali terbaring lemah di rumah sakit. Dan selama itu dengan setia Rega menemaninya disana.

“Aku punya sesuatu buat kamu,” setelah membantu Arin minum, Rega mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan kotak yang anyaman kulit kayu berbentuk persegi panjang pada gadis itu.

“Wah.....bunga kering. Bagus banget! Makasih ya,” ucap Arin pelan.

“Harusnya aku kasih bunga itu kekamu waktu bunga itu masih segar.”

“Maksudnya,”

“Aku pernah berniat nagsih bunga itu kekamu sebagai......wujud perasaan aku kekamu. Tapi ternyata hari itu kamu malah pergi,” entah keberanian dari mana, Regapun akhirnya menyampaikan perasaan yang telah lama ia pendam. “aku sayang sama kamu,”

“Kamu gak perlu jawab pernyataanku barusan. Aku cuma pengen kamu tahu perasaanku,” seperti yang dikatakan Rega, Arinpun hanya diam. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saj ia dengar. Lidahnya terasa kelu, tak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya.

      Tak ada yang berubah setelah Rega menyatakan perasaannya pada Arin. Ia masih tetap rajin menemani gadis itu setiap hari. Dan Arinpun juga bersikap biasa kepadanya.

“Kamu nggak apa-apa kan Rin?” begitu dinyatakan bahwa ia boleh pulang dari rumah sakit, Arin langsung minta diajak oleh Rega kesuatu tempat.

“Iya. Aku baik-baik aja.” bahkan Arin masih mengenakan baju dari rumah sakit karena ia sangat tidak sabar untuk pergi ketempat itu.

“Kita kan bisa kesananya besok-besok aja, apalagi sekarang sedang hujan lebat. Aku takut ada apa-apa sama kamu,” ucap Rega khawatir, ia terpaksa mengabulkan permintaan Arin karena gadis itu sampai memohon sambil menangis padanya.

“Mudah-mudahan, waktu kita tiba disana, ujannya udah reda. Dan kita bisa liat pelangi,” harap Arin seraya menyender didada bidang Rega.

       Harapan Arin rupanya tercapai, begitu mereka tiba di panti, hujan sudah reda. Tanpa menunggu waktu lama, mereka segera menuju taman.

“Pelanginya udah muncul,” pekik Arin riang walau tubuhnya masih lemah. Rasanya sudah lama ia tidak sesenang ini.“Kalau liat pelangi dari sini rasanya paling bagus, deh.”

“Pelangi itu kayak kita kan Ga? Kamu pelanginya, dan aku warnanya.” bisiknya

“Benar juga, kamu telah memberi warna dalam hidupku. Walau seumur hidup aku nggak pernah liat warna, yang aku tahu hanya gelap.”

“Kamu mau mengingat sesuatu?” tanya Arin seraya menggenggamjemari Rega.

“Kamu mau aku mengingat apa?”

“Wajahku. Coba pegang kening....alis....mata....hidung....pipi....bibir......kamu bisa mengingatnya kan?” Arin menggerakkan jemari Rega disetiap inci wajhnya.

“Kamu pasti cantik. Alis kamu rapi, bhidung kamu mancung, dan bibir kamu juga mungil.” puji Rega.

“Salah. Aku jelek. Mataku cekung, pipiku tirus, bibirku juga pecah-pecah.”

“Itu karena kamu sakit. Suatu hari aku akan liat wajah kamu yang cantik.” Arin tida menghiraukan kata-kata Rega. Ia malah sibuk menyeka darah yang menetes dari hidungnya.

Tuhan, aku tahu bahwa hanya Kau yang berhak atas hidupku ini. Engkau yang menentukan takdir untukku. Aku telah siap jika Kau ingin memanggilku sekarang. Aku telah meninggalkan yang terbaik untuknya. Aku hanya ingin ia bahagia. Jika Engkau ingin mengambil nafasku sekarang, aku rela....

“Disini dingin, kamu mau kan meluk aku?” pinta Arin dengan mata setengah menutup.

“Kita masuk kedalam aja, ya.”  Rega sangat khawatir dengan kondisi tubuh Arin yang semakin melemah. Iapun memeluknya dengan erat.

“Biarin aku tetap disini dulu, ya.” ia hanya berusaha untuk memenuhi keinginan Arin. Karena Rega tahu ini mungkin saja adalah permintaan terakhir gadis itu. Ia membelai lembut tubuh Arin, merasakan tubuhnya yang hangat.

“Kamu capek, ya?” tanyanya pelan.

“Hmmm....” gumam Arin lemah.

“Tidurlah,” Ucapnya kemudian dengan air mata yang siap menitikdikedua matanya. Bersamaan dengan air mata yang jatuh ditangan Arin, tangan yang mencengkram lengannya itupun jatuh terkulai tak berdaya.

“Selamat jalan sahabatku....kini aku telah benar-benar seperti pelangi tanpa warna.”

       Sebuah suara ceria seakan menjadi pemecah keheningan disuatu pagi buta,

“Jangan murung gitu dong!!! Kan sekarang kamu udah bisa liat tampangku yang cantik ini,” tampak Arin sedang memaju-majukan wajahnya didepan Rega.Entah sudah berapa kali Rega memutar kembali rekaman video yang ditinggalkan Arin untuknya. Sebenarnya bukan hanya itu yang ditinggalkan gadis itu untuknya. Arin telah memberikannya kornea mata dan sebuah keluarga untuknya. Sudah hampir enam tahun Rega sah menjadi putra kedua orang tua Arin.

“Aku Cuma ingin satu kata dari kamu. Bahagia. Kamu bahagia kan?”

“Kamu adalah segalanya bagi aku. Aku mau kamu selalu bahagia. Walau aku udah gak ada disamping kamu, tapi aku ada dalam diri kamu. Kan kita ini pelangi sama warnanya?”

“Oh iya, aku masih hutang satu kalimat sama kamu. Kamu ingat, waktu kamu ungkapin perasaan kamu  sama aku. Walau waktu itu kamu bilang kalau kamu gak butuh jawaban, tapi aku tau kamu juga pengen kan? Aku juga sayang sama kamu. Karena kamu adalah segala-galanya dalam hidupku.”

Rega menekan tombol off pada remote control yang ia pegang, dan wajah Arinpun menghilang dari layar televisi. Ia segera mengambil koper-kopernya. Ia harus segera tiba di bandara, karena pesawat yang akan membawanya kembali ke Indonesia segera berangkat. Kini ia siap pulang untuk membantu orangtua angkatnya mengelola perusahaan mereka. Ia akan membalas budi baik mereka juga Arin yang telah memberikan kehidupan yang sangat sempurna untuknya. Itulah janji hidupnya yang harus ia tepati.

****

HBNS.DHA-BEIY 2010

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Pelangi Tanpa Warna

gravatar

Cara Menghasilkan Uang Melalui Facebook ( HOT NEWS )

Oleh : Felix Benny Aditya

Revolusioner! Itulah yang saya ungkapkan ketika menemukan sebuah aplikasi advertising online via facebook ini. Bagaimana tidak? Selain bisa digunakan untuk beriklan, aplikasi ini bahkan bisa digunakan untuk Menghasilkan Uang Melalui Facebook Tanpa Modal. Aplikasi ini bernama "bagi bagi", yang diciptakan oleh seorang pemuda kreatif bernama Gunawan T Wicaksono. "Bagi bagi" merupakan jaringan media periklanan yang mempertemukan antar pemasang iklan (advertiser) dan pembacanya. Simpelnya adalah, anda akan di bayar untuk membaca iklan atau menjawab iklan yang di tayangkan. Bila anda memasang iklan di sini, maka iklan anda akan di baca dengan antusias oleh pengguna aplikasi ini yang sampai saat ini berjumlah 299 orang(data tanggal 26 Juli Pukul 17:07 ).

Aplikasi ini dibuat untuk ditujukan pada para pemasang iklan online (Advertiser) dan para pengguna facebook (FBers) yang menginginkan penghasilan tambahan melalui aplikasi ini.
Bagaimana cara mendapatkan penghaslan tambahan dari sini? Di aplikasi ini, iklan yang ada mengandung pertanyaan / quiz. Pembaca di haruskan menjawab pertanyaan terlebih dahulu, bila benar pembaca akan mendapatkan komisi. Dari situlah anda akan mendapatkan uang. Jika jawaban salah, tentu anda tidak akan mendapatkan komisi. Anda juga bisa turut serta mengajak teman-teman anda, dan setiap teman yang anda ajak melakukan klik iklan, maka anda juga akan mendapatkan penghasilan dari situ. Untuk menggunakan dan menghasilkan uang dari aplikasi ini, anda tidak perlu mengelurakan biaya sama sekali untk bergabung. (Gratis) Anda pasti bertanya, darimana uang untuk membayar komisi. Seperti yang saya jelaskan tadi, ini merupakan jaringan media periklanan, jadi tentu saja orang2 yang memasang iklan disinilah yang membayar anda. Andapun bisa menjadi advertiser untuk mempromosikan bisnis anda. Bagaimana? Ingin mulai mencoba? Tidak ada salahnya kan mencoba menhasilkan uang melalui facebook, lagi pula ini gratis..

Silahkan anda klik disini. (Harus login facebook dulu untuk menjalankan program ini)

( Thanks To Bro... )
Felix Benny Aditya

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Cara Menghasilkan Uang Melalui Facebook ( HOT NEWS )

gravatar

Mari Bernyanyi . . .

Suara Lembut "Abang" Sami Yusuf yang ganteng ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, terlebih saat bulan Ramadhan ini seringkali lagu-lagunya diputar di beberapa stasiun tv swasta Indonesia, beberapa provider selular juga menjadikan lagunya sebagai RBT ( Ring Back Tone ), disini saya sebagai salah seorang fans si "Abang" Samy Yusuf ingin sedikit berbagi salah satu lirik lagunya yang bertitelkan Hasbi Rabbi, karena saya pernah menemui beberapa kesulitan saat saya mencoba untuk menghapal atau sekedar mendendangkan lagu tersebut, tentunya secara garis besar kesulitan tersebut dikarenakan dalam lagu ini terdapat 4 bahasa yang digunakan dalam liriknya, antara lain bahasa Inggris, India, Turki dan Arab, berikut dibawah ini lirik dari lagu tersebut.


Sebelumnya bagi yang belum punya lagunya bisa download di sini


Hasbi Rabbi
Album : My Ummah
By : Sami yusuf

O Allah the Almighty
Protect me and guide me
To your love and mercy
Ya Allah don’t deprive me
From beholding your beauty
O my Lord accept this plea


CHORUS:

Hasbi rabbi jallallah
Ma fi qalbi ghayrullah



CHORUS
Hindi:

Wo tanha kaun hai
Badshah wo kaun hai
Meherba wo kaun hai


Kya unchi shan hai
Uskey sab nishan hai
Sab dilon ki jan hai


CHORUS
Turkish:

Affeder gunahi
Alemin padisahi
Yureklerin penahi

Isit Allah derdimi, bu ahlarimi
Rahmeyle, bagisla gunahlarimi
Hayreyle hem aksam hem sabahlarimi


CHORUS
Arabic:

Ya rabbal ‘alamin
Salli ‘ala Tahal amin
Fi kulli waqtin wa hin


Imla’ qalbi bil yaqin
Thabbitni ‘ala hadhad din
Waghfir li wal muslimin

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Mari Bernyanyi . . .

gravatar

Produk Baru 369

Sekarang 369 Shop menyediakan dan menjual Clay dengan beragam bentuk yang unik, lucu dan menarik . . .

Buat anda yang tertarik untuk pembelian dan pemesanan, sementara ini kami hanya dapat melayani pembelian di daerah Banjarmasin dan sekitarnya.
( Mohon maaf bagi yang berada di luar daerah yang telah menghubungi kami, harap maklum )

Clay produksi kami dapat dijadikan kado unik, pajangan, bahkan ucapan selamat hari raya . . .

Berikut beberapa bentuk clay yang sudah pernah dijual dan dipesan oleh
konsumen kami.


























[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Produk Baru 369

gravatar

Kembali . . .


Terkadang... dengan rela utk melepaskan sesuatu yg kita miliki, mengakui segala keterbatasan yg kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita utk sesuatu yg lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yg jauh lebih besar...... dan lebih hmmm.....


For My Love


CINTA TANPA SYARAT

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.”

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. “Aha, nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,” kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. “Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan’. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,” kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, “Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutkan bercerita.” Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. “Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi….kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.”

Nenek segera menimpali, “Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua.”

Intisari,

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.


From : Narasumber C142FR76JS

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Kembali . . .

gravatar

12 Batang Lidi Rahmadi




Langkah gontai itu kembali menyusuri jalan setapak pinggiran sungai, sebuah rutinitas untuk sepasang kaki ringkih yang sudah menapaki kulit bumi bertahun-tahun ini, tubuh renta yang telah lapuk dimakan usia itu tampak bungkuk, namun dari raut wajahnya terpancar semangat yang tinggi untuk segera bisa sampai pada tempat yang ditujunya, sayup-sayup terdengar suara adzan, langkah itu kini semakin cepat seperti peluru para pejuang yang siap menerjang para penjajah, satu harapan dalam hatinya, yaitu untuk menunaikan sholat berjamaah di mesjid itu bersama para sahabat sebayanya, sekilas mereka tampak seperti kumpulan orang yang berlomba menuju maut.


"Alhamdullah", batin Rahmadi, tatkala kakinya menginjak halaman masjid komplek itu, dengan serta merta dirinya menjadi sumringah, entah kebahagiaan apa yang dirasakannya, hanya dirinya yang mampu menjelaskan. setelah selesai menunaikan kewajibannya Rahmadi sempat berbincang sejenak dengan beberapa jama'ah lain, seperti biasa topik pembicaraan mereka tentang rumah ibadah itu, keprihatinan mengenai masjid "yang semakin besar" tentunya karena kehilangan jama'ah dan masjid yang kini seakan seperti panti jompo karena tak terlihat lagi anak muda disana, sama seperti yang terlihat di sekitar tempat tinggal kita.

Sepulangnya di rumah, Rahmadi membuat seisi rumah heran, dia membawa 12 batang lidi di genggaman tangannya, lidi tersebut memang diambil dari sapu yang biasa dipakai untuk membersihkan pekarangan rumahnya, "Untuk apa lidi-lidi itu pak?" istrinya bertanya heran, dengan entengnya Rahmadi menjawab dengan sebuah jawaban misterius "Setiap lidi ini memiliki makna pentingnya kehidupan di dunia", mendengar jawaban tersebut keluarga sederhana Rahmadi hanya bisa terdiam diselimuti kebingungan yang mendalam di sanubari mereka.
Setiap harinya saat berangkat menunaikan ibadah sholat ashar Rahmadi membawa sebatang lidi tersebut, sepulang dari masjid ada kebiasaan baru Rahmadi yaitu mengunjungi tempat-tempat "ladang amal" seperti panti asuhan, rumah fakir miskin, dan tempat lainnya yang penuh rahmat Allah, entah apa maksud dari tingkah laku Rahmadi tersebut, sempat terbersit kecemasan dari hati istrinya, dia takut kehilangan imam di rumah bahagia mereka, sosok seorang ayah yang luar biasa, santun, sederhana, bersahaja, tapi pemikiran itu segera ditepis oleh istrinya, karena dirinya kini merasa bangga menikahi seseorang seperti Rahmadi, dalam usia senjanya Rahmadi semakin dekat dengan sang pencipta.

Tak terasa lidi yang diletakkan di atas meja di depan pintu kamar tidur Rahmadi kini tinggal tersisa tiga batang karena memang setelah lidi tersebut dibawa berangakat pergi lidi tersebut ditinggalkan disetiap pintu atau jalan masuk tempat yang didatanginya, "Hmm tinggal tiga batang, waktu berlalu cukup cepat" dia menggumam, hari itu Rahmadi membawa lidi tersebut dan meletakkannya di depan jalan masuk komplek pemakaman tempat orang tuanya dikuburkan, setelah berziarah dan memanjatkan doa di atas kuburan kedua orang tua serta beberapa keluarga yang telah meninggal dia menyempatkan diri pula untuk menanyakan letak tanah kuburan yang telah dipersiapkan untuk dirinya dan keluarganya kepada penjaga makam sembari menyelipkan beberapa lembar uang di kantong penjaga kubur sebagai tanda terima kasih telah merawat dan membersihkan kuburan sanak keluarganya. Keesokan harinya, Rahmadi melakukan sebuah kegiatan janggal, selesai sholat di masjid dia bergegas pergi ke pasar terdekat dengan membawa lidi lagi, entah apa yang dibelinya disana, namun ketika pulang kerumah dia berpesan pada istrinya, "Istriku, barang ini akan kuperlukan nanti pada saat lidi terakhir itu habis, tolong nanti kau ambil di lemari pakaian kita, tapi sebelumnya jangan pernah dibuka dulu" selesai berkata seperti itu Rahmadi mengajak seluruh isi rumah untuk membereskan rumahnya dan berkata, "kita akan mengadakan acara, Ayah minta maaf sebelumnya kepada kalian semua, semoga saja acara ini nantinya berjalan baik", tak ada satu pertanyaan pun yang dijawab Rahmadi, suasana terlihat kaku, malamnya mereka sekeluarga terlibat pembicaraan serius. Siapa yang menyangka lidi terakhir ternyata diletakkan Rahmadi di depan pintu masjid, selepas sholat ashar kali ini Rahmadi tidak lagi melakukan perjalanan membawa lidi-lidinya, hari ini Rahmadi memilih berbincang-bincang di masjid kepada seluruh jama'ah dan para alim ulama disana, Rahmadi tampak lebih bersahaja hari itu, tutur kata lembutnya, sikap santunnya terasa menyejukkan suasana, mereka terlibat sedikit dialog, Rahmadi membuat suasana masjid sore itu seperti selepas sholat ied.

Pagi jum'at, istrinya mendapati suaminya telah terkulai lemas diatas sajadahnya, Rahmadi wafat diatas sajadah di dalam tahajudnya, istrinya menangis dan menyadari bahwa ternyata maksud dari 12 lidi tersebut adalah hari menjelang kematian suaminya, keluarga Rahmadi sadar acara yang akan mereka selenggarakan yaitu acara penyelenggaraan jenazah Ayah tercinta mereka, Rahmadi ayah dua anak itu tampak tersenyum dalam kematiannya, wajahnya sungguh polos dan damai, istrinya segera bergegas membuka bunguksan yang pernah dititipkan tempo hari padanya, didalamnya terdapat lembaran kain kafan dan beberapa nota pembelian alat-alat kematian termasuk sebuah nisan yang telah bertuliskan nama dan tanggal kematiannya. Tak banyak orang seberuntung Rahmadi yang bisa mengetahui kematiannya, Rahmadi beruntung karena keimanannya.


Pengangguran Menulis Mimpi

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - 12 Batang Lidi Rahmadi

gravatar

Egois Adalah Benar . . . ? ? ?




Berifkir bijak, selama masih kita menjunjung tinggi egoisme selama itu pula kita akan menutup mata dari segala hal yang sebenarnya berguna, merasa benar adalah faktor paling utama yang membuat manusia mementahkan segala argumen lain bahkan kadangkala bagi yang sudah teracuni oleh egoisme akan menganggap dan menilai orang yang menyanggah maupun berselisih dengannya akan selalu melakukan hal buruk.

Tentunya hal tersebut adalah sebuah kerugian besar, karena tidak selalu apa yang kelihatannya buruk itu akan selalu buruk, mata hati yang tertutup akan mempengaruhi cara pandang dan metode brfikir yang berujung pada suatu kebencian yang membabi-buta, selalu berfikir negatif, dan tak bisa menerima dengan akal sehat apa yang datang, nasehat atau teguran dan saran, mungkin dengan berfikir positif tentunya kita akan menemukan sejuta manfaat dari hal tersebut.

Sekarang adalah tinggal apakah pilihan kita, apakah kita ingin menjadi seseorang yang bisa menghargai orang lain, memiliki kedewasaan dan sikap positif, atau kita hanya akan jadi seorang manusia yang selalu sibuk untuk mempersalahkan orang lain, menutup mata dari kebenaran hakiki, menjauhkan diri dari perkembangan kepribadian yang bermanfaat.

Ditinjau dari aspek agama pun sebenarnya tidak ada pembenaran untuk menilai seseorang buruk terlalu awal, hal tersebut juga merupakan barometer keimanan seseorang dan kedewasaan seorang muslim yang memelihara persaudaraan, sesungguhnya Tuhan yang akan memelihara seseorang dari niat jahat orang lain, sealam kita beriman kepadaNya dan berserah diri, maka sesungguhnya bila kita berfikir logis, apa yang kita kenal baik dan dianggap baik disekitar kita belum tentu akan baik dibelakang kita, sebaliknya orang yang dianggap jahat karena sebuah perbedaan yang terjadi diantara keduanya malah akan membukakan pikiran kita dan membuat kita bisa mempertimbangkan suatu hal berangkat dari sebuah perbedaan.

Apapun yang selama ini telah dijalani dengan salah tak ada kata berlambat untuk memperbaikinya, namun lakukanlah segera perubahan itu, karena sesungguhnya keberadaan manusia di dunia ini tidak seamata-mata mengejar harta, pangkat, ketenaran, tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu amal saleh yang harus kita kerjakan untuk mendapatkan kebahagiaan di akherat.

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)


Terima Kasih untuk :
Sahabat ku :
Huda "Ronie", Blitar ( Temanku berbagi visi )

Bismar Baihaqi, Bjm ( Temanku yang setia )

Adik :

Annisa Shinta, Bjm ( Tempat belajar arti sebuah ketenaran )

Princess Suzann, Bjm-Bjb( Tempatku belajar memahami )


Maaf untuk kalian semua, selama ini aku belum bisa menjadi teman yang baik . . .



[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Egois Adalah Benar . . . ? ? ?

gravatar

Pertempuran Petang

Kilatan pedang dan suara denting baja beradu memecah keheningan belantara metro, dua "srikandi" itu belum juga selesai menuntaskan pertempuran disisi sang pemimpi yang takluk dan luruh bersama hijaunya daun petang itu. terburai sudah idealisme dan mimpi semu itu tertoreh tajamnya pedang srikandi berambut indah.

Disisi lain sang srikandi bermata laksana sunset diantara samudra itu menumpahkan asa yang meluncur bagai busur berkecepatan cahaya coba menghujamkan sedalam mungkin senjata pusaka nya....

Mereka saling menyerang mempertahankan gelora yang menderu, membelah atmosfir, membuat mata yang hadir disana terbelak tak pecaya, mimpikah itu?

7 menit setelah pedang tehunus itu menebas keras kulit mulus, keadilan pun luluh lantak tak bersisa, meski di sudut lain tampak membara api murka namun apalah daya srikandi jatuh terhuyung, namun tak jelas srikandi mana yang terhuyung...

Mereka berganti peran, dan mereka tak sadar siapa mereka, diantara merah putih dan diantara silau cahaya itu, srikandi lupa akan kebijaksanaan sikapnya sia-sia dan menghancurkan dirinya, ...

Sekelebat dan sepersekian detik entah itu siapa datang dan membentangkan laskar suci sang fajar. Terhempas kedua tubuh mulus itu ke arah berlawanan, hancur lebur sepanjang mata memandang keadaan sekitar. Ketika pahlawan kebijaksanaan itu datang bergemuruhlah alam dan mereka tersenyum bersama dalam damai yang tak bisa dimengerti oleh awam.

"Perang Petang Srikandi"

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Pertempuran Petang

gravatar

Merasakan Hidup

Banyak yang merasa hidup ini indah, tapi lupa bersyukur, banyak yang merasa sombong, tapi sebenarnya mereka takabur, banyak hal seperti itu terjadi, setiap hari berulang dan terus terulang, aku pun seperti itu.


Adakalanya rejeki yang datang lupa untuk disyukuri, mungkin karena hidupnya yang terlalu mudah, padahal diluar sana banyak yang dengan susah payah bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sedikit uang sekedar untuk menyambung hidup.

Di suatu waktu aku pernah mencoba sedikit merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh mereka, betapa beratnya perjuangan untuk mendapatkan rupiah, dari sekedar menjadi pemungut bola tenis, penambal ban, dan beberapa pekerjaan lain yang selama ini dianggap orang itu tidak berarti, dan pendapat tersebut sangatlah SALAH.

Semoga mereka yang selama ini merasa diatas dan lupa mensyukuri ( termasuk diriku ) menjadi ingat dan sadar terhadap kesalahan yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja.

Berikut foto-foto yang diambil saat sehari bersama mereka yang memiliki jasa untuk kita yang tak pernah kita sadari, ( khusus untuk mereka para terampil yang mengerjakan tempat berteduh kita ).





[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Merasakan Hidup

gravatar

Pick Up Yang Meledak ( Kematian Tragis Sang Gadis Manis )




Masih teringat jelas, mobil Pick Up Daihatsu yang melintas di depan mataku tadi malam, seketika setelah bayangannya berlalu terdengar suara keras menggema membahana, gendang telingaku laksana pecah dibuatnya, suasana sekitar langsung terasa hening, tampak kobaran api dari separuh bagian mobil tersebut, sedang bagian bak belakang masih tampak utuh, termasuk barang bawaannya, aku takjub, tak pernah ku melihat kejadian seperti ini di depan mataku, sedang di otakku masih berfikir menganalisa, apa yang menyebabkan ledakan sedemikian hebat, jujur sebagai seorang lulusan Diploma Mesin aku tak dapat menerka sebabnya, sebelum menelitinya terlebih dahulu, seorang teman bergegas mendekati mobil tersebut mencoba mencari korban, namun seperti yang kami lihat sesaat setelah ledakan tersebut, bagian kabin depan tererlempar beberapa ratus meter ke angkasa seperti sebuah bola api besar kemudian jatuh entah dimana, aku bingung harus melakukan apa, aku tahu, gadis cantik yang tadi menyapaku sebelum mobil itu berlalu adalah seorang temanku, saati itu pula aku merasa tak bisa berdiri diatas kakiku, tak terdengar lagi hiruk pikuk disekitarku, warga sekitar dan para petugas penyelamat hanya bisa sibuk memadamkan sisa api yang menyala.

Aku tahu gadis cantik temanku itu pastilah tak memiliki lagi kesempatan untuk menikmati indahnya dunia, dia harus merelakan hidupnya direnggut oleh kecelakaan maut itu, aku tak sanggup untuk sekedar melirik jasadnya, tubuh putih mulus itu tak ada lagi, semuanya hitam legam, di sudut lain kulihat orang tuanya menangis lemah tak berdaya, tragis memang tapi inilah hidup, kapanpun dimanapun kita tak tahu kapan akan meninggal, terlihat beberapa teman lain sibuk saling bertanya tentang kejadian tersebut. Pikiranku melayang, masih membekas dalam pikiranku senyum manisnya, gadis yang sedikit lebih dulu lahir ke dunia dari pada aku itu kini terbujur kaku, tak ada lagi senyum manis diwajahnya yang cantik itu. Kurasakan mataku mulai basah, karena sebelumnya aku masih ingat sikapnya begitu manis ketika terlibat percakapan sebelum kami bertemu lagi malam itu.

Tersentak aku ketika seorang teman menyapa, bermaksud bertanya tentang kejadian tersebut, namun kali ini aku mendapati diriku berada di ruangan yang berbeda, kulihat acer belum dimatikan dan aku sadar ternyata kenyataan buruk yang baru saja terjadi hanya mimpi, mungkin karena sebelumnya kami terlibat percakapan via chat yang cukup panjang dengan teman gadisku itu, namun dalam benak ku menghantui apakah ini sebuah pertanda buruk, kulihat jam di 6120 ku menunjukan tengah malam, kuurungkan niat untuk menelponnya, karena tentu tidaklah lucu menelepon tengah malam hanya untuk mengkonfirmasi kabarnya sekarang.

SELASA, 02-06-2009
( Sebuah Kisah Nyata )


[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Pick Up Yang Meledak ( Kematian Tragis Sang Gadis Manis )

gravatar

Blog Aku ( Dhani_Yadi ) Difatwa Haram




Setelah ramai menjadi pemberitaan di berbagai media massa dan media cetak tentang fatwa haram terhadap situs jejaring sosial "Facebook" yang konon katanya difatwa haram, maka muncul beragam pendapat dan opini mengenai topik hangat tersebut, namun aku tidak ingin membahas hal tersebut dalam tulisan kali ini, melainkan mengenai blog pribadiku yang juga tidak menutup kemungkinan akan difatwa haram, tentunya apabila mengandung konten pornografi maupun fitnah serta beragam hal yang bisa merugikan pihak lain, akan tetapi ada yang lebih penting yang bisa membuat blog miliku ini mendapatkan predikat haram, tentunya bukan karena konten, tetapi karena pelanggaran terhadap hukum "Menyelesaikan" yang berlaku di dalam area blog ku yang mewajibkan setiap pengunjung membaca dan memberikan komentar terhadap apa yang telah mereka baca, meskipun haram yang di maksudkan disini adalah haram yang berlaku di kalangan blogger tentunya, yang bermanfaat untuk saling menambah teman dan kenalan untuk hal - hal yang bermanfaat dari sekedar berteman, berbisnis, bertukar ilmu pengetahuan bahkan hal yang lebih kepada perasaan, terlepas dari beberapa manfaat yang nantinya akan terlewatkan apabila anda tidak meninggalkan "jejak" anda di blog saya yang kumuh ini, saya beharap kita dapat menjalin tali silaturahmi, dan saling mengencangkan tali celana masing-masing (salah). Saya juga memberikan kesempatan untuk setiap pengunjung untuk meninggalkan link pada kolom link exchange yang telah saya sediakan, pada sidebar di sebelah kiri dan untuk semua yang telah berkunjung dan memberikan komentar saya ucapkan terima kasih banyak dan semoga tidak bosan untuk saling berseru "Blogger Untuk Persaudaraan".

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Blog Aku ( Dhani_Yadi ) Difatwa Haram

gravatar

Tulislah Apa Yang Kau Pikirkan


Seorang teman berbicara, "Tulislah Apa Yang Kau Pikirkan", sepertinya ungkapan tersebut bukanlah hal yang asing di telingaku, tapi kata - kata tersebut adalah sebuah hal yang masuk ke dalam logika ku, karena selama ini kita selalu direpotkan dengan kesibukan "Memikirkan Apa Yang Ingin Kita Tulis", ungkapan sederhana tersebut merupakan sebuah tips jitu untuk memulai menuliskan sesuatu untuk menciptakan sebuah karya, hal lain yang tidak kalah penting adalah "Tempatkan Diri Anda Sebagai Pembaca", biarkan naluri anda menuntun anda dalam menciptakan karya, jangan terpaku dulu dengan beberapa hal formal yang nantinya akan membatasi ruang gerak anda dalam berkarya, lambat laun andapun akan memahami hal-hal tersebut, karena pada dasarnya perlu adanya "trial and error" dalam sebuah proses pembelajaran sekaligus penciptaan, terlepas dari itu semua, jangan pernah malas dan ragu untuk belajar, bacalah lebih banyak dari yang pernah anda baca sebelumnya, maka anda nantinya akan mendapatkan jiwa dari kaya anda, selain itu gaya anda dalam memaparkan juga akan terbentuk secara alami seiring berjalannya waktu, dan jangan pernah bosan untuk bertanya dan belajar kepada orang-orang yang profesional.

( Cuma Sharing Nih, Soalnya Sepertinya Itu Penting )

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Tulislah Apa Yang Kau Pikirkan

gravatar

Malam Yang Hilang




Aku kehilangan malam ku
Sesaat setelah tertawa riang

aku memaknai mimpiku dengan malamku
kemana angin lari bertiup membawa malamku

aku mencoba menelusuri sungai harapan
membelah hutan di mana ada lelap tidur, tak jua ku bersua

aku dan malam ku
setelah tersadar dari gelak tawa menggema
di sudut ruang tidur terserak bagai jasad yang hancur

di mana malamku, aku tak tahu lagi dimana, sedang aku tak bisa bermimpi
karena aku tak terlelap dan aku lupakan tidur, apa itu . . .

seketika aku lembali tersentak dengan sekelebat cahaya
aku benar-benar kehilangan malamku, kini pagi lagi . . .

sejuknya sudah menerpa nurani ku, aku masih penasaran di mana malam-malamku . . .
akankah malam menyongsong untukku, seperti hangatnya pelukan sang kekasih di dalam rindu yang tersirat namun tak pasti

Malam


By : Dhani_Yadi "Pengangguran Menulis Mimpi"

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Malam Yang Hilang

gravatar

Kenapa Saya Harus Jadi Presiden


Jujur sebenarnya saya tidak berkeinginan untuk terjun dan bersaing dalam belantara politik di Indonesia, meskipun beberapa kali saya merasa "pernah" kecewa terhadap pemerintah, namun tidak semua kesalahan ditimpakan kepada seorang Presiden, saya hanya orang biasa, masih belum pantas untuk menjadi seorang Presiden. Tapi menurut saya hal tersebut tidak bisa saya hindari, saya harus bisa menjadi seorang Presiden, mempunyai kekuasaan dan wibaya, mempunyai wewenang untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap segalanya sesuai koridor hak dan kewajiban saya. Akhirnya saya memutuskan dengan penuh keyakinan bahwa saya akan maju, dan saya memang harus menjadi Presiden, menjadi Presiden untuk diri saya, menjadi Presiden untuk segala hal yang perlu saya atur demi kemajuan diri saya, menjadi Presiden untuk segala bidang bisnis yang saya geluti, Karena kepemimpinan untuk diri sendiri dan emosi itu penting, Terima Kasih, Sekian, Wassalam ( Jadi Kaya Pidato )

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Kenapa Saya Harus Jadi Presiden

gravatar

Dari Lensa & Pengangguran Menulis Mimpi


Celah Jendela Sang Perahu Motor




Perahu Motor Berpayung




Tunggu Kami Kembali Lagi




Bocah Menyongsong Daratan






Mereka Yang Siap Berpacu Melawan Gelombang





SHARE

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Dari Lensa & Pengangguran Menulis Mimpi

gravatar

Rani Juliani, Kasus Antasari Azhar dan Blog

Rani Juliani, perempuan penyuka film James Bond dan lagu-lagu bertema cinta yang dilahirkan beberapa bulan lebih awal dari saya ini mungkin tidak pernah menyangka apa yang akan terjadi dengan hidupnya, namun saya tidak akan membahas masalah tersebut disini, melainkan lebih kepada blog dan popularitas pemiliknya.

Perempuan yang pernah berkuliah di STMIK RAHARJA atau lebih sering disapa akrab dengan Green kampus ini menjatuhkan pilihan untuk membuat blog beberapa tahun yang lalu memanfaatkan fasilitas dari blogspot, mungkin dari awalnya dirinya tiada pernah menyangka bahwa suatu saat yang akan datang akan memiliki blog dengan ribuan pengunjung, berikut ini adalah screen shoot halaman profil Rani di Blogspot.



Di blogspot rani memiliki dua buah blog antara lain yaitu, Rani Juliani Site Raharja dan RANI ZonE's namun dengan keadaan yang jarang di up-date hal ini bisa dilihat dari minimnya posting serta pemeliharaan dan desain template yang masih standar saja. Memang Rani tidak pernah memimpikan mempunyai blog yang dipenuhi dengan ribuan pengunjung, meskipun pada salah satu blognya Rani berharap kepada setiap pengunjung yang datang untuk meninggalkan komentar

tampaknya blog ini lah yang menjadi pilihan Rani untuk mencurahkan isi hatinya, terlihat konsep blog yang dimilikinya lebih kepada sebuah catatan-catatan pribadi. meskipun begitu blog diatas lebih beruntung daripada blog Rani lainnya yang jelas sekali masih perawan tanpa ada satu postingan disitu, seperti yang terlihat di bawah ini

Namun semuanya bukanlah sebuah tolak ukur untuk menilai kepopuleran sebuah blog, karena blog tersebut dapat menjadi populer karena kepopuleran pemiliknya, beberapa tahun lalu saat membuat blog tersebut mungkin Rani tidak pernah memimpikan ribuan pengunjung datang mengunjunginya, tapi sekarang semenjak menjadi selebriti dadakan terkait kasus pembunuhan yang juga menyeret Ketua KPK Non Aktif ke dalam dinginnya tembok penjara, blog Rani seketika menjadi populer, beragam komentar datang di blog tersebut dari yang sekedar iseng berkunjung, ingi mengenal lebih jau siapa Rani, mendukung Rani, mencemooh, serta memasang ilan dadakan. Ternyata teori tentang kepopuleran sebuah blog karena konten maupun manfaat sebuah blog yang selama ini kita serap telah dipatahkan oleh realita blog Rani, dalam waktu singkat blog Rani telah menyedot ribuan pengunjung seperti terlihat pada gambar di bawah ini

Rani - Rani sekarang kamu bukan hanya jadi rebutan di dunia nyata tapi blogmu pun menjadi rebutan untuk dikunjungi, selamat . !!!

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Rani Juliani, Kasus Antasari Azhar dan Blog

gravatar

Sebuah Pekerjaan & Titel Pengangguran

Satu tahun sudah diriku melewati hari dengan menyandang gelar Amd ( Ahli Madya ) jurusan Teknik Mesin Otomotif lulusan POLIBAN, tercatat sudah 3 kali pula aku berganti pekerjaan, namun sekarang aku memutuskan untuk kembali kuliah dengan mengambil jurusan ekonomi Akuntansi ( Ekstensi Ekonomi Unlam Banjarmasin ) dengan konsekuensi menjalaninya dari awal tapi dengan umur yang sudah tua, 22 tahun. Dari beberapa perusahaan yang pernah kujadikan sumber penghasilanku untuk sekedar menyambung hidup ( Sebelum 369shop berdiri, waktu itu aku masih mengelola Sm@rt COMPT dan LEMPO CO. ) beragam pengalaman kudapatkan, sehingga diriku mengetahui bahwa idealisme adalah sebuah tolak ukur kualitas prinsip seorang lelaki, dimana pada saat idealisme tentang kebenaran, kedispilinan dan kejujuran yang merujuk pada norma dan etika merupakan hal penting dan memiliki korelasi terhadap keimanan dan halal tidaknya rezeki yang kuperoleh.

Berangkat dari kegundahan hati dan beragam alasan tersebut aku mencoba untuk menerobos dunia kerja dan memilih hengkang serta memulai sebuah lembaran baru dengan membuka usaha kecil pribadi dimana aku bisa menjadi seorang manajer untuk diriku pribadi, meski aku harus mendapatkan titel PENGANGGURAN, aku sendiri tidak pernah merasa memiliki pekerjaan, akupun tidak ingin merasa pusing dengan ketakutan akan omongan para teman, para perempuan yang aku sukai bahkan para ibu dari semua mantan pacar yang menuntut seseorang yang mapan yang dinilai dari sebuah NIP atau PEGAWAI (PNS/SWASTA), atau sekedar pertanyaan mau diberi makan apa anak istri.

Aku merasa pengangguran dan aku senang akan hal itu, sehingga semua target serta rahasia masa depan yang sedang kurancang hanya aku dan Allah yang mengetahuinya, aku merasa bersyukur (“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji QS. Luqman 31:12) berkat titel PENGANGGURAN MENULIS MIMPI yang kusandang aku memiliki semangat baru, semangat untuk kembali bekerja, meski kutahu 369shop ku kini sedang memerlukan perhatian, tapi kucoba untuk membagi waktuku dengan tujuan baruku, karena keberhasilan seorang wirausahawan mungkin hanya dinilai dengan kemewahan dan materi yang dimilikinya, akupun hingga saat ini tidak pernah merasa memiliki pekerjaan, 369shop ku yang pada awalnya hanya bergerak di bidang FASHION kini sudah mulai mencoba untuk menggeliat di bidang KULINER ( BATAGOR 369 ), semoga saja untuk selanjutnya akupun bisa mewujudkan cita-cita untuk menambah beberapa armada angkutan untuk kemudian membuka usaha pengiriman barang lewat darat melayani rute Kal-Sel dan Kal-Teng, karena selama ini karena keterbatasan armada yang ada hanya bisa disewakan pada para pemilik usaha pengiriman barang yang telah ada.

Pengangguran Menulis Mimpi, rangkaian kesibukan dan kegundahan yang menyelimutiku kini mulai mengusik otak ku dan menggerakkan hati untuk kembali mendapatkan titel Pegawai ( swasta / negeri menurutku tak ada bedanya ), sekarang kudapatkan lagi semangat ku untuk bekerja dengan perusahaan orang, meski dengan berat hati kucoba sedikit meninggalkan 369 shop ku yang telah menjadi hobby ku selama ini.

Mungkin pengakuan seseorang memiliki pekerjaan sekarang dianggap sangat berharga, pertanyaan nya adalah kalau kita semua berharap bisa bekerja ditempat orang atau diperusahaan maupun instansi pemerintah, siapa yang akan membuat lapangan pekerjaan ( "Barang siapa yang menolong kesusahan orang muslim, maka Allah ta'ala akan menolongnya dari kesusahan pada hari kiamat." HR. Bukhari ).

Apalah artinya itu, aku lebih menyukai menyandang titel PENGANGGURAN MENULIS MIMPI, berapapun besarnya income yang kudapatkan dan sehebat apapun 369shop nantinya.

Apapun aku, dan bagaimana pun nantinya tiada terlepas aku dari kehendakNya, aku bersyukur atas rejeki yang kuperoleh, aku bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan, aku menerima atas segala cobaan, serta cacat fisik yang telah disematkan Nya pada ku, meski mimpi ku tiada batas namun aku bergantung pada kuasa Nya

"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". QS. Ath-Thalaq : 4

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Sebuah Pekerjaan & Titel Pengangguran

gravatar

Sepenggal Galah Bambu

Dan ketika senja itu ditepis malam.. bisikan angin menyapa
dalam hampa diantara sepinya jagad raya, berselimut gelap

mencekam, menambah nelangsa, membumbui derita
aku tersadar dari realita tak berujung

disebelahku pertentangan paradigma dan ideologi
dibelakangku saling melempar, dan menyeru "Kambing Hitam"

Kucoba melompati mimpi-mimpi idealisme... aku tak mau lari, mungkin hanya melompat
Tapi apa ini ? ? ? apa ini ditanganku ? ? ?

aku "Pengangguran Menulis Mimpi"
dengan menggenggam sepenggal galah bambu, . . . kutopang diri bepijak dengan kedua kaki diatas bumi...

aku tak mau menjadi palsu, dan "Maaf", aku bukan boneka "Bapak"
dan ketika semua kembali lagi, seperti harmoni siklus yang samar, Pagi datang lagi . . .

( Sepenggal Galah Bambu )

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Sepenggal Galah Bambu

gravatar

Penawaran Promosi Untuk Blogger

Setelah sekian lama 369shop berkiprah di dunia online dengan bermodalkan blog gratisan, mungkin sekaranglah saatnya kami memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih dengan menawarkan sedikit keringanan untuk teman - teman blogger dengan memberikan potongan harga khusus terhadap beberapa item barang, adapun barang yang kami berikan potongan harga tersebut adalah :










Konfirmasi harga Hub : Dhani ( 0511 6154422 - 0852 48727404 - 0819 53400454 )


ADA YANG LEBIH MENARIK LAGI, KHUSUS UNTUK PENGGUNA


( Blogspot )

Mendapat Dobel Potongan Harga


369shop mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman - teman blogger di Banjarmasin dan sekitarnya, serta seluruh Indonesia atas dukungannya selama ini, dan dalam kesempatan ini pula kami memohon do'a dari seluruh teman - teman untuk rencana ekspansi unit usaha 369shop yang direncanakan akan melebar ke sektor Jasa Pengiriman Barang melalui darat, melayani rute KALSEL - KALTENG, Terima Kasih







[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Penawaran Promosi Untuk Blogger

gravatar

Dokter Yusuf & Gadis Berkerudung Biru ( Peduli Kanker )

Manis senyumnya masih terpatri di benak Yusuf. Dialah dara berkerudung dari kampung sebelah yang senantiasa menghantui Yusuf, Aisyah namanya, tutur katanya yang santun, sikapnya yang anggun, sungguh pesona itu melumatkan hati kaum Adam yang berjumpa dengannya.

Waktu menunjukan pukul 23.30, terdengar jelas detak jarum jam yang menempel di dinding kamar kost Yusuf, terlihat beberapa cicak berkejar-kejaran di langit-langit kamarnya, sesaat Yusuf mulai meneteskan air mata.

Lima tahun yang lalu, tepatnya saat Yusuf dan Aisyah bersekolah di kampungnya, di sebuah Madrasah Aliyah Negeri yang terletak di pinggiran kampung, masa remaja mereka yang terbalut nuansa syahdu itu adalah masa terindah bagi Yusuf.

Hari demi hari mereka lalui dengan beragam kegiatan positif, mengikuti pengajian rutin di Musholla dan mengajar anak-anak mengaji, meskipun tak pernah terucap, namun di hati mereka tersimpan rasa cinta yang begitu dalam, entah seberapa dalamnya, bahkan mungkin untuk menyelaminya perlu waktu satu tahun cinta.

Kamis pagi setelah mata pelajaran olah raga, tanpa sebab yang pasti Aisyah jatuh pingsan, setengah sekolah gempar dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, maklumlah kejadian serupa sangat jarang terjadi di sekolah itu, selain itu rasa kekeluargaan yang begitu kental juga merupakan faktor yang cukup dominan mempengaruhi, mungkin rasa seperti itu sudah sangat jarang kita temui di kota.

Di kelas tampak Yusuf sangat gelisah memikirkan sesuatu yang terjadi pada Aisyah, ritme jantungnya semakin lama semakin kencang, suara detak itu mungkin sekencang beduk yang berdentum dalam lomba takbiran malam lebaran.

Ribuan tarikan nafas panjang telah dilakukan Yusuf untuk menenangkan diri, namun itu tak memberikan ketenangan sedikitpun, bahkan kini seluruh ruang di otak Yusuf telah dipenuhi sejuta gambaran kemungkinan yang terjadi pada Aisyah.

Teng teng teng begitu bel akhir sekolah berbunyi, Yusuf secepat kilat memacu sepeda tua warisan kakeknya menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, begitu sampai di rumah, dengan serta merta dia berganti pakaian, kemudian di kayuhnya lagi pedal sepeda itu sekuat tenaga laksana seorang pembalap dunia yang membela reputasi negaranya di lintasan sirkuit waktu tak berujung.

Disandarkannya sepeda tua itu pada sebatang pohon jambu di pekarangan rumah Aisyah. Masih terlintas kenangan masa kanak-kanak Yusuf dulu ketika dia terjatuh dari pohon itu karena digigit semut demi untuk mengambilkan buah jambu untuk Aisyah.

"Assalamualaikum" ucap Yusuf tatkala dirinya tiba di pintu rumah Aisyah yang reot,
"Wa'alaikum salam", sahutan parau dari ayah Aisyah menimpali.

Begitu masuk dan dipersilakan duduk, tanpa basa basi Yusuf menanyakan apa sebenarnya yang menimpa Aisyah, tapi Yusuf tak mendapat jawaban yang memuaskan, yang mereka tahu hanyalah beberapa hari terakhir Aisyah mengeluh sakit pada bagian kepalanya, ada benjolan di bagian belakang kepalanya, ibunya menuturkan. Tampak di salah satu sudut ruangan Aisyah terbaring tak berdaya, lemah seakan kehilangan sepertiga nyawanya, rintihannya lirih mengiris kalbu, terasa begitu sakitnya derita yang dialami Aisyah, sungguh memilukan dan tragis, hati Yusuf seakan hancur menyaksikan sang dara terkasih tersiksa, maklumlah keluarga Aisyah tergolong miskin di kampung tersebut ditambah lagi jauhnya jarak ke kota terdekat yang memakan waktu sepuluh jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Seminggu setelah hari tersebut akhirnya diketahui apa sebenarnya telah menimpa Aisyah. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang dokter dari kota, anak salah satu penduduk kampung yang kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya, Kanker.
Tak terbendung lagi kesedihan bagi Yusuf, rasanya kenyataan itu terlalu berat untuk diterimanya, belum lagi berjuta mimpi Aisyah yang pernah disampaikan pada Yusuf harus pupus, hilang seperti asap yang terbawa angin sore.

Tubuh putih mulus itu kini kurus kering, matanya semakin sayu, suara indahnya kini hanya terdengar sayup-sayup, tak sanggup rasanya Yusuf menyaksikan keadaan perempuan terkasihnya itu, tak ada yang bisa dilakukan keluarga dan para tetangga, hanya doa dan obat-obatan tradisional yang bisa mereka berikan. Bahkan kunjungan dari petugas kesehatan kampung pun hanya bisa pasrah meski sudah segenap kemampuan mereka kerahkan untuk Aisyah. Yusuf kini semakin kurus, raganya kini seperti ikut merasakan derita yang dialami sang gadis berkerudung biru itu.

Di tengah terik matahari siang itu pak Amin dan Ridwan tengah sibuk menggali, mereka mempersiapkan lubang 2 x 1 meter untuk tempat beristirahatnya Aisyah, minggu malam tadi Aisyah dijemput Yang Maha Kuasa, kanker itu telah menyelimuti hari-hari terakhir hidup Aisyah, hal ini pula yang membekas dalam jalan hidup Yusuf. Tangisnya hari itu seperti sebuah pelampiasan kekesalan berkepanjangan pada keterbatasan dan kemiskinan yang mencekik sebagian orang di dunia, Yusuf bertekad untuk bisa menjadi dokter demi bisa membantu sesama dan membayar pengorbanan Aisyah, cintanya yang kini terbalut kafan putih seputih awan siang itu.

+II+

Pukul 03.45 pagi, Yusuf menangis, kini dirinya sedang mencoba meraih mimpi untuk menjadi seorang dokter. Kanker yang merebut Aisyah darinya telah memacu motivasi besar baginya. untuk menjadi seorang dokter. Dia ingin mengabdikan diri melawan penyakit itu, menolong kaum miskin, menghancurkan sekat keterbatasan dan kemiskinan. Dan kini dia telah sukses menjalani studinya, dialah dokter muda baik hati yang ramah, Dia dokter Yusuf.

Oleh : Dhani_Yadi ( Pengangguran Menulis Mimpi )

Kupersembahkan tulisan ini . . .

Untuk mereka yang telah meninggal direnggut kanker

Untuk mereka para Dokter yang bersedia membantu kaum tak mampu

Untuk kekasihku tercinta yang senantiasa memberi semangat dan cinta untuk-ku ( 90 )

Untuk seluruh keluargaku, khususnya kedua orang tuaku tersayang


[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Dokter Yusuf & Gadis Berkerudung Biru ( Peduli Kanker )

gravatar

Mengintip Sunset Di Balik Lensa Kamera Si Pengangguran Menulis Mimpi

LOKASI : JEMBATAN BENUA ANYAR













LOKASI : JEMBATAN BARITO









[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Mengintip Sunset Di Balik Lensa Kamera Si Pengangguran Menulis Mimpi

gravatar

Kenapa Terjadi

Fiuh... Malam ini rasanya terlalu berat.., kucoba meredakan sedikit beban pikiran dari masalah hidup..Kuliah dan lainnya.. Apalagi setelah tadi komunikasi via telepon dengannya terasa kurang pas.., mungkin pengaruh cuaca yang agak panas dan kesibukan yang menyita waktunya, seperti yang disampaikannya tadi.
24.10 WITA. Kuambil es cream dan secangkir sirup leci, untuk kudapan kupilih selembar roti tawar dengan balutan selai coklat. Habis sudah semuanya disantap namun pikiran ini masih terasa kacau, bayangannya masih menari di alam pikirku, hampir setiap detik terngiang suara manjanya di telinga.. Ya, hal inilah yang kutakutkan, tanpa ada awal.. Tak disadari datang dan akhirnya terlanjur terjebak rasa, aku takut, takut untuk harus jatuh dalam sungai cinta, rasanya perahuku tak pantas untuk berlabuh di pelabuhan hatinya. Aku tahu aku tak pantas dan aku tak ingin ini membebaniku karena rasanya tak mungkin untuk aku memilikinya.. Ya, siapalah diriku, seorang fakir yang cacat bahkan mungkin hina.. Ya, itulah aku si Pengangguran Menulis Mimpi.. Tak pantas untuknya.. Meski terlanjur aku jatuh cinta.. Ah bayanganmu masih menghantuiku.. Kau unik dan.. Ah sudahlah.. Semoga kau sedang bermimpi indah sekarang
24.37 WITA

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Kenapa Terjadi

gravatar

Kembali ( 3 )

April 2009, Ketika dia menyibak tirai kelam sejarah hidupnya, dia mendapat jawaban, kealfaan dirinya terhadap Sang Pencipta selama ini telah menjadi bumerang baginya, dia sadar, tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa sebuah sebab.

Pagi itu, diantara batang pohon mangga yang gersang dia menyandarkan pundaknya, dia teringat, berapa tahun silam pohon mangga ini adalah pohon yang subur dan senantiasa memberikan buah terbaiknya, namun kini, yang diberikannya hanyalah daun kering yang senantiasa berjatuhan di atas tanah.

Tersadar akan sebuah realita, dia mencoba bangkit mencari makna hidupnya, mencoba membenahi kusutnya, namun kini ada satu hal yang begitu indah hadir menemaninya.

Dia tahu, bukan saatnya untuk serakah dan terlalu dini untuk memiliki, karena dia tahu, Tuhan akan memberikan kesempatan, dan akan dijawab oleh waktu

To be continue . . .

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Kembali ( 3 )

gravatar

Di Antara Aruh Blogger, Keceriaan dan Harapan

Klo...ini adalah penampakan dari bawah kursi.. Tamu tak diundang


Entah apa yang tersirat di balik foto ini, silahkan anda komentari sendiri, . . .

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Di Antara Aruh Blogger, Keceriaan dan Harapan

gravatar

Keusilan PMM

Rasanya malam ini pengen ketawa sekeras-kerasnya.. Pertama > karena berhasil ganggu seorang temen cewek yang sudah ngebet pengen tidur, ampe 1 jam molor waktunya... Kedua > karena berhasil menjalankan skenario sandiwara yang nyaris sempurna.. Mungkin selain dari ratusan permohonan maaf dari lisan dan sms.. Posting ini juga mewakili permohonan maafku.. Meskipun dirinya juga gokil.. tetep dia manusia juga. Yang pastinya udah pucat pasi tuh mukanya karena super jokes dariku hahaha.. Maaf ya neng.. Lain kali.. Aku usil lagi ya.. Karena malam ini aku tak sempat liat muka mu waktu di usilin
Wassalam .. He he

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Keusilan PMM

gravatar

Meski Datang Namun Tak Pernah Diserukan

Berlari diantara lolongan malam mencekam, terpaut sedih antara takdir
Hujan namun tak mendung, meski datang namun tak pernah diserukan.

Melihat mimpi bergelayut di pundak takdir, melihat malaikat ditengah senja..

Berlari dan dijalani tiada beda, toh akhirnya pecah juga riak airnya
mengayuh dalam angin, menerpa hidup di jembatan mimpi...

Aku pengangguran menulis mimpi tercabik asa, tercabik takdir...

Melayang bersama waktu, hanyut dalam arus nelangsa, namun itu indah...

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Meski Datang Namun Tak Pernah Diserukan

gravatar

Ganti Thema

Apasih sebenarnya alasan anda ganti thema??? kalo boleh tau??? Jawab Ya....

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Ganti Thema

gravatar

Kembali (2)

Malam itu sepasang kaki melangkah gontai disinari sang dewi malam. Dia pulang namun sekali ini bukan dengan mimpi yang dulu dan bukan untuk Bunga.
Dia tahu cinta Bunga bukan untuknya lagi, bahkan tiada lagi dia peduli apakah Bunga masih dapat mekar lagi, baginya Bunga telah layu.
Berat memang ujian untuk sang Mimpi, dia bukanlah Mimpi yang dulu, dimana kemudahan dan kejayaan berteman dengannya.
Bunga tak memiliki jiwa dari Cinta namun hanya memiliki aromanya saja. Hingga ketika angin bertiup maka hilanglah wangi itu.
Mimpi kini laksana seorang pesakitan, setelah tersesat dalam lorong pengangguran, terjebak dalam perangkap kebangkrutan dan memperoleh hadiah cacat fisik mungkin inilah yang membuat Bunga pergi.
Mimpi tetap tersenyum dan selalu berusaha membuat semua teman tersenyum. Mimpi tahu dia masih memiliki para adik yang bijak dan teman yang santun. Dan Mimpi tahu mungkin saat dirinya terpuruk entah siapa yang mau meniupkan lagi seruling angin kasih, itu tak bisa terjawab dan sebuah rahasia.
( Kembali 3 )

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Kembali (2)

gravatar

Terjaga...

Beberapa menit sebelum pukul 12.00 WITA malam ini aku terbangun, sedikit nyeri pada kedua lengan yang masih saja hinggap semenjak 2 hari lalu adalah penyebabnya. Seketika pula aku beranjak untuk mengambil 2 butir pil untuk sekedar mengurangi rasa nyeri ini. Setelah kembali berbaring aku teringat beberapa memori sebelum aku terlelap sekitar pukul 10.00 WITA tadi.
Tersadarlah aku bahwa ada dua hal yang mengganjal dan belum terselesaikan, sholat Isya yang belum dikerjakan dan aktivitas ber-sms dengan seorang teman yang terputus tanpa kejelasan sebab, tentunya hal tersebut masih menggangguku.
Untuk sholat Isya bisa diatasi dengan mengerjakannya sehingga terpenuhilah kewajiban tersebut, namun untuk hal yang kedua tidak bisa selesai atau kulupakan begitu saja.
Berawal dari kesalahanku dalam mengirimkan pesan singkat kepada teman yang lain dengan maksud untuk menanyakan perihal keberadaannya saat itu, namun karena kecerobohanku pesan tersebut terkirim kepada teman yang lain disebabkan nama mereka diawali dengan abjad yang sama, lalu mulai terlibatlah kami dengan beberapa dialog ringan via sms dari mulai sekedar menanyakan aktivitas yang sedang dilakukan saat itu serta beberapa canda hingga terucap satu kata dari bahasa "prokem" darinya setelah menanggapi sebuah pesan dariku. Mengetahui kata tersebut telah disematkan oleh beberapa teman lain sebagai titel untuknya, akupun mencoba menanyakan sebab awal kenapa sampai dirinya mendapat titel tersebut karena aku tidak sependapat dengan yang lain bahkan aku juga menilai dirinya cukup baik meskipun titel tambahan tersebut bukanlah sebuah hal yang negatif.
Celaka bagiku, pesan balasan tak kunjung tiba di handphone ku, aku merasa was-was menebak apakah dia sedang marah atau tersinggung karena sms ku tentang pertanyaan tadi. Kutunggu sekitar 15 menit dan tak kurang dari 4 pesan kucoba kirimkan lagi kepadanya dari pertanyaan apakah dia marah secara formal maupun dengan canda menggunakan bahasa "jawa" gado-gado sampai ke pesan yang dipenuhi dengan permohonan maaf yang berulang-ulang akhirnya kucoba menelepon tapi tak dijawab.
15 menit berlalu kucoba berbaring dikamar untuk sekedar menenangkan pikiran, kucoba menganalisa 3 kemungkinan 1. Dia marah 2. Dia kehabisan pulsa 3. Dia tertidur , tanpa kusadari akhirnya ku tertidur.
Sekarang disaat aku terjaga ini kucoba untuk mengunjungi weblog pribadi miliknya untuk sekedar mencoba menebus kesalahanku dan akhirnya kutuliskan juga kegundahaan ini, karena satu hal yang sangat penting bagiku, aku tak ingin dirinya marah. Mungkin orang lain menganggap hal ini sepele dan tak perlu dilebih-lebihkan tapi bagiku hal ini penting sama pentingnya dengan keberadaan temanku tersebut terlebih lagi pada siang hari sebelumnya seorang teman lain bercerita tentang penyesalannya karena mengatakan sesuatu hal yang membuat salah seorang teman perempuan menangis. Semoga tidak ada kemarahan dan kebencian terbersit di hatinya. 4.37 WITA 23-03-2009 ( Maafkan Aku Manis )

[Teruskan Baca Agar Tidak Difatwa Haram] - Terjaga...

BANNER